Tuesday, November 3, 2009

mingguminggu yang sibuk

ada kebiasaan yang seragam diantara temanteman dan saya beberapa minggu terakhir. tak tidur sampai pagi. jatah tidur yang seharusnya 8 jam, berkurang drastis jadi hanya sekitar 4 jam. itu pun kalau beruntung, kadang bisa cuma 2 jam. maklum, musim ujian dan paper; benarbenar berat dan memaksa saya jadi zombie pemarah. kalau diajak ngomong loadingnya lama, kalo disenggol dikit maunya langsung bacok.

well, ratarata kami mengambil 4 mata kuliah yang masingmasing jumlahnya 5 credit. dan 4 mata kuliah itu dalam dua bulan ini artinya adalah: malammalam horor mempersiapkan 4 presentasi+makalah, 6 complete paper, beberapa critical analysis pendek, dan kepala yang dingin serta mata yang lebar untuk mengikuti diskusi di kelas.

malam dengan pekatnya jadi kawan kental buat saya. eh boong ding, orang saya lebih sering kencan sama netbook tercinta, tik tok tik tok di word dan sesekali menengok keriuhan dunia maya.

ketika kemarin merampungkan sebuah paper panjang semalaman, tibatiba saya merasa jetlag. bener. jetlag seperti waktu naik pesawat itu lho. jadi ceritanya, terakhir kali saya keluar kamar jam 7.40 an malam, belum gelap benar tapi yang jelas sudah malam, netbook sudah nyala, air mineral sudah terisi penuh, mood sudah di sms. waktunya bekerja! asyik benar saya berceloteh di paper itu sampai tak sempat menengok jam dan halaman yang saya tulis. rasanya menyenangkan menulis topik yang disuka. selesai sudah satu paper sampai akhirnya saya merasa kehausan. saya lihat tak ada air tersisa di botol air mineral.

waktunya mengambil air!

keran air minum ada di ruangan depan yang dipisahkan oleh taman dan jalan kecil. saya agak seram juga kalau harus mengambil air sendirian di pagi buta begini. pasti sepi dan dingin sekali dong. saya ambil jaket dan botol yang kosong. bersiap buka pintu. kunci pun saya buka.

tau apa yang terjadi?

ternyata di luar sudah terang benderang! saya tengok kiri kanan. mencoba memahami keadaan. 'lho kok terang sih? saya gak mimpi kan? kok bisa?' begitu batin saya.
belum hilang rasa penasaran. berlarilah saya ke meja belajar. caricari jam tangan yang ada di dalam gelas. maklum, penunjuk waktu satusatunya cuman itu. eh gak juga dink. ada jam di pojok kanan bawah layar. tapi saya gak begitu peduli sama keberadaannya.

ternyata waktu menunjukkan pukul 9 pagi. buset. gilingan loch. pantas saja sudah terang benderang! oon deh saya.

akhirnya saya paham kalo hari memang sudah siang. ini artinya saya tak perlu ngeri ambil air minum, waktunya mengirim paper dan membayar hutang tidur yang semalam saya pinjam. sambil harus mengingat kudu bangun pada tengah hari untuk kuliah siang.

benarbenar minggu yang sibuk.
benarbenar tak sempat untuk yang namanya senangsenang. kalau duduk di kafetaria sebentar rasanya menyenangkan, tapi begitu ingat pekerjaan yang harus diselesaikan tibatiba perut jadi mual dan kepala langsung pusing.

masih ada sebulan lagi nak, sebelum liburan tiba dan rencana backpacking ke utara.
selalu begitu hibur saya.

Sunday, November 1, 2009

si muka telur dan gigi kelinci

aku ingat,

tentang mukamu yang seperti telur.
aku ingat entah kemarin entah kapan, aku pernah bilang mukamu seperti telur.
kamu tertawa dan menjawab 'kok bisa?'
lalu aku jawab
'iya, bisa. memang bentuknya seperti telur kok'
kamu tertawa lagi dan berkata
'ya udah, kalo gitu gigimu kayak kelinci'.

aku tertawa.
ya. kami adalah si muka telur dan si gigi kelinci yang sedang duduk di depan kamar berbagi keringat saat matahari ada di atas pohon mangga.

si muka telur keringatnya bau, si gigi kelinci juga. duduk berdekatan. karena keduanya bau jadi sulit dibedakan mana bau keringat masingmasing. sampai ketika si muka telur sudah habis keringatnya dan bergegas mandi, si gigi kelinci merasa ia sendiri yang bau. lalu protes
'lho kok mandi sih? nanti kamu wangi aku bau dong.'
si muka telur tetap saja melenggang.

si gigi kelinci berusaha menghilangkan keringat yang dipanen dari bergoyangbadan. masuk ke kamar, membuka kaosnya yang sudah basah karena keringat, melipat jarit yang tadi dipakainya menari, mencari handuk yang selalu dibawanya. menyeka keringat. memastikan badannya kembali kering. mencari bedak tabur di selasela tas jinjing. memuntahkan sebagian isinya diatas kulit.

si gigi kelinci merasa sudah wangi
si muka telur keluar dari kamar mandi dengan handuk terlilit di pinggang.

si muka telur tetap saja tampak seperti telur, meski dengan handuk dan minus keringat.
'uh, bau' katanya
'siapa yang bau?' kata si gigi kelinci
'kamu'
'masa? kamu ngawur. aku sudah pakai bedak' kata si gigi kelinci

jeda sebentar

'melihat mukamu aku ingin makan telur'
'siapa?'
'kamu. mukamu'
'aku sudah mandi lho'
'aku belum mandi gak papa?'
'gak papa gak masalah'


kami merebus telur. dua saja.

Friday, October 23, 2009

tanah air dan mbrebes mili

bilang saya cemen, bilang saya cengeng. bolehboleh saja.
yang jelas saya mbrebes mili, untuk tidak bilang saya menangis.

pagi buta ini saya masih disibukkan dengan acara mengetik paper yang deadline-nya [juga] hari ini. namanya juga saya, apa sih kalo bukan last minutes panic. tentu saja saya baru mengerjakan di detikdetik terakhir. jadi mau tak mau pasti begadangan. untunglah tadi sore saya sudah nyicil tidur 4 jam. wayangan jadi tak begitu terasa berat, sempat berhenti sebentar karena kepentok ide, tapi akhirnya setelah dimulai, bisa selesai juga.

ah, kok saya jadi melenceng kesini?

sebenarnya ingin bilang: saya merasa relung hati yang terdalam ini sedang disentuh. percaya atau tidak, oleh sebuah lagu. lagu yang tidak bisa dibilang favorit saya. yang jelas lagu ini hanya saya dengar ketika upacara bendera, kegiatan pemuda, paduan suara dan acara seremonial sebangsa itu. ya, tanah airku dari ibu sud. benarbenar lagu ini yang telah mampu membuat saya mangap, dan tak dapat melanjutkan acara mengetik. sejenak saya merasa beku, dan degdegan. benarbenar lagu yang mengalun dari setriming radio PPI Dunia pagibuta ini bikin saya terhenyak. dan tak sadar...[ya itu tadi] mbrebes mili. mungkin karena sekeliling saya sedang terlelap, dan suasana sepi. mungkin juga karena saya ada di tempat yang jauhnya ribuan kilometer dari tanah air. mungkin juga karena saya sedang sentimentil dan melankolis. mungkin juga karena lagu ini memang punya kekuatan dahsyat, ditulis berdasarkan pengalaman yang otentik dan jernih.

saya tak bisa mendefinisikan secara rinci apa yang saya rasakan. gabungan antara rasa rindu yang sangat, terharu, dan semacam itu. mungkin juga rasa cinta pada negeri, yang bangkit karena sebuah lagu! [tuh kan saya curhat]

...biarpun saya pergi jauh... tidak kan hilang dari kalbu.
tanah ku yang kucintai...engkau ku hargai...

ah, pagi buta yang begitu ajaib!

Saturday, October 10, 2009

tentang bapak

bapak saya itu orang yang unik. pokoknya unik.

saya tahu itu.

bapak tak pernah sekalipun mengijinkan saya pulang larut apalagi menginap di rumah kawan, bahkan kawan yang sangat dekat dengan saya, sudah kenal dengan keluarga saya, dan perempuan pula. waktu saya tanya kenapa seperti itu? dia menjawab:
kamu punya kamar, kamu punya rumah. kamu tidur di kamarmu di rumah ini. kenapa kamu pengin tidur di rumah orang lain?saya jawab: kenapa saya tak boleh tidur menginap di rumah teman?setiap hari saya tidur di rumah?sekali ini saja.dia bilang: ya sudah, sekalian saja tak usah pulang.

saya masih ingat persis. hari itu saya masih pakai baju putih biru, suka dikepang dua, dan gendut sekali. temanteman saya berkumpul di rumah salah seorang teman untuk menginap. tinggal saya seorang yang belum minta ijin. dan siapa lagi kalo bukan saya, minta ijin di detikdetik terakhir.

sampai saya lulus kuliah, tak pernah sekalipun saya menginap di rumah teman.

di lain hal, bapak membebaskan saya pilih sekolah, pilih cat kamar tidur, pilih barangbarang yang saya suka, melakukan hal yang saya inginkan. kami berdiskusi tentang agama, tentang fashion, tentang politik dan orangorang bodoh yang bertebaran.

jurusan yang saya pilih, apa yang ingin saya pelajari, bapak tak turut campur. pokoknya satu. menurutnya, anaknya ini tetap harus sekolah. mengenyam pendidikan. meski saya tahu, kadang dia tak setuju dengan caracara sekolah 'memperlakukan' murid. mungkin dia akan lebih puas mengajar anaknya dengan cara sendiri, tentu saja tak mungkin. bapak tak punya cukup waktu.

sepanjang yang saya ingat: cetak tebal dan garis bawah, saya sering sekali punya pendapat yang berbeda dengan bapak. itu buat kami sering bertengkar. tapi saya tahu, itu karena saya memang tukang ngotot, dan kebetulan bapak saya tak suka dibantah.

pernah saat itu saya sengaja pulang jam 2 dinihari. itu cara saya memprotes larangan bapak. saya pulang naik motor yang biasa saya naiki, tapi kali ini saya diantar pulang sekompi temanteman pria. mereka khawatir saya kenapanapa di jalan. jadi pikir mereka, lebih baik ditemani. kalau yang menemani seorang, kelihatan aneh. makanya banyak orang.

saya mencoba membuka pintu, ternyata terkunci. saya coba memencet bel rumah. agak lama. tapi kemudian pintu terbuka. bapak saya berdiri membelakangi lampu ruang tengah, satusatunya yang dinyalakan. saya bilang "aku pulang kemaleman". bapak saya tak menjawab. saya masuk kamar, menaruh tas. bapak masih tak berkatakata. saya keluar kamar, menuju dapur ingin minum. seteguk dua teguk. cuci muka dan bersiap tidur. saat melewati ruang tengah menuju kamar saya lirik bapak saya masih diam saja. berdiri di ruang tengah yang menyala. saya sengaja tak sapa. lalu dia menampar saya. saya diam saja. masuk kamar.

kami tak berbicara selama dua minggu. tak ada uang saku. fasilitas dicabut. saya marah sekali. bahkan saat itu saya berjanji, kelak ketika saya ingin menikah, tak ingin cari suami [akan jadi ayah dari anakanak kami] yang seperti bapak.

larangan bapak saya untuk pulang larut dan menginap di rumah orang lain memang terasa aneh untuk saya, remaja usia belasan tahun yang beranjak 20. saya pikir bapak seorang yang kolot, tak mengerti anaknya, otoriter, tak mau tahu. tapi setelah dipikirpikir, seingat saya itulah satusatunya larangan bapak untuk saya. dan saya pikir, mungkin itu cara dia satusatunya untuk melindungi saya; karena saya kadang tak mempan kalau hanya diberi tahu.

ah, bapak saya. ternyata sudah 3 bulan tak bertemu. seingat saya bapak tampak menua, badannya tambah gendut, dan kepalanya mulai beruban juga botak. saya yakin itu ada hubungannya dengan hobi mencabuti rambut uban. biasanya kalo saya pulang, di bawah jendela kamar tamu ibu mencabuti rambut uban bapak. kalau ibu bilang sudah, biasanya bapak tak percaya "coba sekali lagi, dicari. di sebelah sini pasti masih banyak, soalnya bisa tak rasain, di sini pasti masih banyak". ah bapak, saya jadi tahu kalo sebenarnya saya sayang bapak. sekarang saya jauh sekali dari rumah. saya kangen.

benar juga kata orang: kadang jarak membuat pikiran lebih jernih, kadang bikin benak jadi lebih bijak.

selamat ulang tahun bapak, maaf aku tak bisa kasih kado [anyway, aku tahu bapak gak inginkan kado.] aku tahu bapak cuman ingin anaknya yang paling besar ini baikbaik di negeri orang. tak bertindak anehaneh. belajar bertanggung jawab. i hope, we hope.

hyd, 5.10.2009